9 Spesies Semut Berdasarkan Habitat, Gaya Hidup, Ciri-Ciri & Fungsinya — @iniunik - INIUNIK.WEB.ID —
Meskipun semua semut tampak serupa, mereka terbagi dalam banyak spesies
berdasarkan gaya hidup dan ciri-ciri fisiknya. Makhluk hidup ini
sebenarnya memiliki sekitar 8800 spesies. Setiap spesies juga memiliki
sifat yang patut dikagumi. Sekarang mari kita bahas beberapa spesies
tersebut, gaya hidup dan ciri-cirinya.
1. Semut Pemotong Daun
a. Ciri-Ciri
Ciri-ciri khusus semut pemotong daun, yang juga di-sebut “Atta”, adalah
kebiasaan mereka membawa potongan daun yang mereka potong di atas
kepalanya. Semut ini bersembunyi di bawah daun, yang sangat besar
dibandingkan ukuran tubuh mereka. Daun ini mereka tahan dengan dagu yang
terkatup rapat. Oleh karena itu, perjalanan pulang semut pekerja
setelah bekerja seharian memberi pemandangan sangat menarik.
Orang yang melihatnya akan merasa seolah lantai hutan menjadi hidup dan
berjalan. Di hutan hujan, pekerjaan mereka mengambil sekitar 15 persen
produksi daun.
Alasan mereka membawa potongan daun tentu saja bukan untuk perlindungan
dari matahari. Semut ini juga tidak memakan potongan daun. Lalu,
bagaimana mereka memanfaatkan begitu banyak daun?
Ternyata Atta menggunakan daun untuk memproduksi jamur. Daun itu sendiri
tidak dapat mereka makan karena di dalam tubuh mereka tak ada enzim
yang dapat mencerna selulosa dalam daun. Semut pekerja menumpuk potongan
daun setelah ia kunyah, dan ia sim-pan di ruang-ruang dalam sarang di
bawah tanah. Di ruangan ini mereka menanam jamur di atas daun. Dengan
ini, mereka memperoleh protein yang mereka butuhkan dari pucuk jamur.
Namun, jika Atta disingkirkan, kebun itu biasanya mulai rusak dan segera
tersaingi jamur liar. Lalu, bagaimana Atta, yang membersihkan kebunnya
hanya sebelum “penanaman”, terlindung dari jamur liar? Cara menjaga
kultur murni jamur tanpa harus selalu disiangi tampaknya bergantung pada
air liur yang dimasukkan semut ke dalam kompos saat mereka mengunyah.
Diduga air liur tersebut mengandung antibiotik yang menghambat
pertumbuhan jamur yang tak diinginkan. Air liur juga mungkin mengandung
zat pen-dukung pertumbuhan untuk jamur yang tepat.
b. Yang harus direnungkan adalah :
- Bagaimana semut ini belajar membudidayakan jamur ?
- Apakah mungkin, pada suatu hari seekor semut kebetulan mengambil daun dengan mulutnya dan mengunyahnya?
- Lalu secara kebetulan lagi ia menempatkan cairan yang kini mirip
bubur ini di atas lapisan daun kering yang benar-benar secara kebetulan
merupakan lahan yang cocok ?
- Semut lain membawa potongan jamur dan menanamnya di situ ?
- Apakah akhirnya semut itu tahu di situ akan tumbuh sejenis makanan
yang dapat mereka makan, sehingga mereka mulai membersihkan kebun,
membuang bahan yang tak perlu, dan memanennya ?
- Lalu mereka menyampaikan proses ini kepada seluruh koloni satu per satu ?
- Selain itu, mengapa mereka membawa semua daun itu ke sarang meskipun tak dapat mereka makan ?
- Selanjutnya, bagaimana semut ini mampu menciptakan air liur yang
mereka gunakan saat mengunyah daun untuk memproduksi jamur? Kalaupun
misalnya mereka entah bagaimana dapat membentuk air liur ini, dengan
informasi apa mereka dapat memproduksi antibiotik dalam air liur mereka
yang mencegah terbentuknya jamur liar ?
- Bukankah diperlukan pengetahuan ilmu kimia yang signifikan untuk
bisa mencapai proses seperti itu? Andaipun mereka memiliki pengetahuan
itu – yang mustahil terjadi – bagaimana mereka bisa menerapkannya dan
membuat air liur mereka memiliki ciri-ciri zat antibiotik ini ?
Jika kita pikirkan bagaimana semut dapat mewujudkan peristiwa mukjizat
ini, muncullah ratusan pertanyaan serupa, yang memerlukan jawaban
penelitian.
Di lain pihak, jika diberikan satu penjelasan, semua pertanyaan ini bisa
dijawab. Semut telah dirancang dan diprogram untuk mengerjakan tugas
yang mereka laksanakan. Peristiwa yang diamati tadi sudah cukup untuk
membuktikan bahwa semut dimunculkan, dengan mengetahui ilmu pertanian.
Pola perilaku kompleks seperti ini bukanlah fenomena yang bisa
berkembang bertahap seiring waktu.
Pola-pola ini adalah hasil dari pengetahuan yang komprehensif dan
kecerdasan yang tinggi. Maka dari itu, klaim evolusionis bahwa perilaku
menguntungkan diseleksi seiring waktu dan organ yang diperlukan
berkembang melalui mutasi, kini tampak sama sekali tak logis.
c. Lalu, apa arti semua ini ?
Jawabannya hanya satu dan sederhana :
Jika hewan ini tidak memiliki kemampuan berpikir untuk memungkinkannya
melakukan apa yang ia lakukan, berarti ada kecerdasan, ada Kebijakan
sosok lain. Sang Pencipta, yang menciptakan semut, menjadikan pula hewan
ini mampu melakukan hal-hal di luar kapasitasnya sendiri. Demikianlah
Dia menunjukkan keberadaan-Nya dan keunggulan dalam ciptaan-Nya.
Sebenarnya, situasi serupa berlangsung di seluruh dunia hewan. Kita
bertemu berbagai makhluk yang menampilkan kecerdasan yang sangat tinggi
meskipun mereka tak memiliki pikiran yang mandiri atau kapasitas nalar.
Semut adalah salah satu hewan yang paling mencolok dan seperti hewan
lain, sebenarnya bertindak sesuai dengan program yang diberikan oleh
Kehendak yang melatihnya.
Sekarang mari kita lanjutkan meninjau keterampilan unggul semut, yang memiliki pengetahuan dasar.
d. Metode Pertahanan Atta yang Menarik
Pekerja berukuran sedang dari koloni semut pemotong daun melewatkan
hampir seluruh hari mereka membawa daun. Mereka jadi sulit membela diri
selama kegiatan ini, karena mereka memegang daun dengan dagu yang biasa
mereka gunakan untuk membela diri. Jadi, jika mereka tak mampu membela
diri, siapa yang melindungi mereka?
Telah diamati bahwa semut-pekerja pemotong daun selalu berjalan ditemani
pekerja yang berukuran lebih kecil. Pada mulanya ini diperkirakan hanya
kebetulan. Lalu, alasan di balik hal ini diteliti dan temuan-nya, yang
merupakan hasil analisis yang panjang, adalah contoh kerja sama yang
menakjubkan.
Semut berukuran sedang, yang bertugas membawa daun, meng-gunakan sistem
pertahanan yang menarik untuk melawan jenis lalat musuh. Lalat musuh ini
memilih tempat khusus untuk bertelur pada kepala semut. Tempayak yang
menetas dari telur ini akan memakan kepala semut, dan pada akhirnya
memenggalnya. Tanpa asistennya yang kecil, semut pekerja tak berdaya
melawan spesies lalat yang selalu siap menyerang ini.
Dalam keadaan normal, semut mampu mengusir lalat yang mencoba mendarat
di tubuh mereka dengan rahang setajam gunting. Namun, ia tak dapat
melakukannya selagi membawa daun. Oleh karena itu, ia menaruh semut lain
pada daun yang dibawanya untuk membelanya. Jika diserang, para penjaga
kecil ini bertarung melawan musuh.
e. Jalan Raya Atta
Jalan yang digunakan Atta, saat membawa pulang daun yang mereka potong,
mirip jalan raya mini. Semut yang merayap perlahan di jalan ini
mengumpulkan semua ranting, kerikil kecil, rumput, dan tumbuhan liar dan
menyingkirkannya ke satu sisi. Dengan demikian, mereka membuat jalan
bersih bagi mereka sendiri. Setelah lama bekerja secara intensif, jalan
raya ini menjadi lurus dan mulus, seolah dibangun dengan alat khusus.
Koloni Atta terdiri atas pekerja sebesar butir pasir, prajurit yang
beberapa kali lipat lebih besar, dan “pelari maraton” berukuran sedang.
Pelari maraton ini berlari membawa potongan daun ke sarang. Semut-semut
ini begitu rajin sehingga, jika diukur dengan ukuran manusia, setiap
pekerja berlari dengan kecepatan satu mil per empat menit sepanjang 50
km, sambil memanggul 227 kg di bahunya.
Dalam sarang Atta, ada ruang-ruang sebesar kepalan tangan sedalam hingga
6 meter. Pekerja mini bisa memindahkan sekitar 40 ton tanah saat
menggali sejumlah besar ruangan dalam sarang mereka yang besar.
Pembangunan sarang selama beberapa tahun oleh semut ini memiliki tingkat
kesulitan dan standar profesionalisme tinggi yang setara dengan
pembangunan Tembok Besar Cina oleh manusia.
Inilah bukti bahwa Atta tidak bisa dipandang sebagai makhluk sederhana
yang biasa. Semut, pekerja sangat keras, mampu merampungkan tugas rumit
yang sulit dilakukan manusia. Sungguh tidak logis jika kita mengatakan
bahwa mereka memperoleh semua keterampilan ini sendiri dan dengan
kemauan sendiri.
f. Teknik Semut Atta Memotong Daun
Saat semut memotong daun dengan mandibula (rahang), seluruh tubuhnya
bergetar. Para ilmuwan mengamati bahwa getaran ini membuat daun diam,
sehingga memudahkan pemotongan. Pada saat yang sama, bunyi ini dapat
menarik perhatian para pekerja lain – semuanya betina – ke tempat
tersebut untuk menyelesaikan memotong seluruh daun. Si semut
menggosokkan dua organ kecil pada perut-nya untuk menghasilkan getaran
ini, yang bisa didengar manusia sebagai bunyi yang sangat lirih. Getaran
ini dikirim melalui tubuh hingga mencapai mandibula semut yang mirip
arit. Dengan menggetarkan bokongnya secara cepat, semut ini memotong
daun berbentuk sabit dengan menggetarkan mandibula, mirip dengan pisau
listrik.
Teknik ini memudahkan pemotongan daun. Namun, diketahui bahwa getaran
ini juga memiliki tujuan lain. Seekor semut yang memotong daun akan
menarik semut lain ke tempat yang sama karena banyak tumbuhan lain di
daerah tempat tinggal Atta beracun. Karena menguji setiap daun oleh
masing-masing semut merupakan prosedur yang berisiko tinggi, mereka
selalu pergi ke tempat di mana semut lain telah berhasil merampungkan
tugas mereka.
2. Semut Rangrang
Semut
rangrang hidup di pohon, membangun sarang dari daun. Dengan
mengombinasikan daun, mereka mampu membentuk satu sarang di beberapa
pohon, sehingga bisa mendukung populasi yang jauh lebih besar.
Tahap-tahap pembangunannya menarik. Pertama, pekerja mencari
sendiri-sendiri lokasi di wilayah koloni yang cocok untuk perluasan.
Kalau menemukan batang yang cocok, mereka menyebar ke dedaunan batang
tersebut dan menarik dedaunan itu dari samping. Setelah berhasil
membengkokkan sebagian daun, para pekerja di dekatnya bergerak
menghampiri dan menarik daun itu bersama-sama. Jika daunnya lebih lebar
daripada ukuran semut, atau jika perlu menarik dua daun sekaligus, para
pekerja membentuk jembatan hidup di antara dua titik yang akan
disatukan. Setelah itu, sebagian semut dalam rantai ini menaiki punggung
semut di sebelahnya, sehingga memendekkan rantai, dan ujung-ujung daun
pun disatukan. Ketika daun sudah berbentuk tenda, sebagian semut terus
memegang daun dengan kaki dan rahang, sementara yang lain kembali ke
sarang lama dan membawa ke situ larva yang dibesarkan secara khusus.
Para pekerja menggosokkan larva maju-mundur pada penyatuan daun, dengan
menggunakan larva sebagai sumber sutra.
Dengan sutra yang disekresikan dari lubang di bawah mulut larva,
daun-daun pun menempel di tempat yang diperlukan. Artinya, larva
digunakan sebagai mesin jahit.
Larva ini, yang dibesarkan untuk tali sutranya, memiliki kelenjar sutra
yang lebih besar dari rata-rata, tetapi mudah dibawa karena ukurannya
lebih kecil. Larva ini memberikan semua sutranya untuk kebutuhan koloni,
alih-alih menggunakannya sendiri. Alih-alih memproduksi sutra
perlahan-lahan dari kelenjar sutra tersebut, mereka menyekresi sutra
dalam jumlah besar pada satu saat tertentu, dan bahkan tidak membangun
kepompong sendiri. Selama sisa hidupnya, semut pekerja akan melakukan
apa-apa yang biasa dilakukan larva untuk mereka. Seperti yang terlihat,
larva ini hidup hanya sebagai “produsen sutra”.
Bagaimana semut dapat mengembangkan kerja sama seperti ini tak bisa
dijelaskan oleh para ilmuwan. Hal lain yang tak dapat dijelaskan adalah
bagaimana perilaku ini pertama kali muncul selama masa evolusi yang
diduga orang. Prinsip-prinsip dasar evolusi tidak akan dapat menjelaskan
bagaimana hal-hal yang begitu canggih dan bermanfaat seperti halnya
fenomena sa-yap serangga, mata vertebrata, dan mukjizat biologis lainnya
bisa berkembang melalui evolusi dari makhluk hidup pertama. Ini
merupakan jalan buntu bagi para pembela evolusi.
Tentu saja tidak logis kalau kita mengatakan bahwa pada suatu hari para
larva berkumpul dan berkata, “Sebagian di antara kita harus memproduksi
sutra untuk memenuhi kebutuhan seluruh koloni, jadi mari kita sesuaikan
berat dan kelenjar sutra kita untuk itu.” Teori seperti ini tentu bukan
teori yang cerdas. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa larva itu
diciptakan dengan mengetahui apa yang harus dilakukan.
3. Semut Pemanen
Sebagian
semut, seperti yang telah disebutkan, adalah “petani” kawakan. Di
antaranya bisa disebut semut pemanen, selain Atta yang kita bahas
sebelumnya.
Mekanisme pemberian makan di antara semut pemanen ini cukup canggih dan
rumit, jika dibandingkan dengan mekanisme pemberian makan jenis semut
lain. Mereka mengumpulkan benih dan menyimpannya dalam ruangan yang
disiapkan secara khusus. Benih-benih ini, yang mengandung karbohidrat,
digunakan untuk memproduksi gula yang akan memberi makan larva dan
pekerja lain. Sementara banyak semut menggunakan benih dan biji sebagai
makanan, hanya semut pemanen yang memiliki sistem yang berdasarkan pada
pengumpulan dan pemrosesan benih.
Semut ini mengumpulkan benih pada musim tumbuh dan menyimpannya untuk
digunakan pada musim kemarau. Di ruangan khusus dalam sarang, mereka
menyortir benih dari benda-benda lain yang salah dibawa pulang. Beberapa
kelompok semut tinggal dalam sarang jam demi jam, mengunyah isi benih
sehingga menghasilkan sesuatu yang disebut roti semut. Dulu diduga bahwa
semut menggunakan proses, yang dipelajari melalui pengalaman, untuk
mengubah karbohidrat benih menjadi gula yang akan mereka makan. Kini
diketahui bahwa air liur melimpah yang mereka sekresikan selagi
mengunyah inilah yang melaksanakan pengubahan ini.
Semut yang kita bahas di sini tentu saja belum pernah dididik tentang
ilmu kimia. Mereka pun tak mungkin tahu bahwa air liur mereka akan
mengubah benih yang mereka kumpulkan secara acak menjadi gula yang dapat
mereka makan. Namun, kehidupan semut ini bergantung pada serangkaian
perubahan kimiawi yang tak mereka ketahui dan tak mungkin bisa mereka
ketahui. Kalau manusia pun tidak tahu proses perubahan yang terjadi
dalam tubuh semut ini – dan baru memahami perinciannya dalam beberapa
tahun terakhir – bagaimana semut bisa makan melalui metode ini selama
beribu-ribu tahun?
4. Semut Madu
Banyak
jenis semut yang diberi makan dengan buangan pencernaan aphid (serangga
daun) yang disebut “madu”. Zat ini sebenarnya tidak berkaitan dengan
madu biasa. Akan tetapi, buangan pencernaan kutu ini – yang memakan
getah tumbuhan – dinamai demikian karena mengandung gula dalam kadar
tinggi. Jadi, para pekerja spesies ini, disebut semut madu, mengumpulkan
madu dari kutu, biji (coccidae), dan bunga. Metode semut mengumpulkan
dari kutu sangat menarik. Si semut mendekati kutu dan mulai mendorong
perutnya. Kutu memberikan setetes buangan kepada semut. Semut mulai
mendorong perut kutu lagi untuk mendapat madu lebih banyak, lalu
menyedot cairan yang keluar. Lalu bagaimana mereka memanfaatkan makanan
bergula ini, dan apa manfaat makanan ini bagi mereka kemudian ?
Ada pembagian kerja yang hebat di antara semut madu pada fase ini.
Sebagian semut digunakan sebagai “guci” untuk menampung nektar yang
dikumpulkan para pekerja lain!. . .
Dalam setiap sarang terdapat satu ratu, para pekerja, dan juga para
penampung madu. Koloni semut jenis ini biasanya terletak di dekat pohon
ek kerdil, yang dapat diambil nektarnya oleh para pekerja. Pekerja
menelan nektar itu dan membawanya ke sarang. Nektar itu lalu ia
keluarkan dari mulutnya dan ia tuangkan ke mulut pekerja muda yang akan
menampung madu ini. Pekerja muda ini, yang dinamai pot madu, menggunakan
tubuh mereka sendiri untuk menyimpan makanan cair manis yang sering
diperlukan koloni untuk melewati masa sulit di gurun pasir. Mereka
diberi makanan hingga membengkak sampai sebesar bluberi. Lalu mereka
bergantungan di langit-langit ruangan seperti bola kuning, sampai mereka
dipanggil untuk memuntahkan nektar itu untuk saudaranya yang lapar.
Selagi menempel pada langit-langit, mereka mirip dengan kelompok anggur
kecil dan tembus cahaya. Jika mereka jatuh, para pekerja langsung
mengembalikannya ke posisi semula. Madu dalam pot madu beratnya hampir 8
kali lipat berat si semut.
Pada musim dingin atau musim kemarau, pekerja-biasa mengunjungi pot madu
untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Semut pekerja menempelkan
mulutnya pada mulut si “pot”, yang mengeluarkan setetes madu dari
tempat penyimpanannya dengan mengerutkan otot. Pekerja memakan madu yang
bernilai gizi tinggi ini sebagai makanan pada musim sulit.
Sungguh menarik dan menakjubkan bahwa ada makhluk hidup yang berat
tubuhnya mencapai 8 kali lipat beratnya sendiri, setelah memutuskan
untuk menjadi pot madu, dan mampu hidup bergantung pada kakinya tanpa
cedera. Mengapa mereka merasa perlu menerima tugas yang begitu sulit dan
berbahaya? Apakah mereka memikirkan sendiri teknik penyimpanan yang
unik ini, dan mengendalikan perkembangan tubuh mereka sesuai dengan itu?
Pikirkan saja, sementara manusia tak bisa mengendalikan perkembangan
sekecil apa pun pada tubuhnya, bagaimana bisa semut, yang tak memiliki
otak dalam arti sebenarnya, melakukan ini sendiri?
Semut madu menampilkan perilaku yang tak dapat dijelaskan teori evolusi.
Sangat tidak logis mempertahankan bahwa mereka mengembangkan metode
penyimpanan madu dan organ yang dibutuhkannya secara kebetulan. Malah,
dalam sumber-sumber ilmiah, kita banyak menemukan pernyataan realistis
mengenai hal ini dan topik-topik serupa
Contoh-contoh ini (misalnya semut madu) menunjukkan dengan jelas bahwa
tidak mungkin berbagai organ berkembang untuk melaksanakan fungsi-fungsi
tertentu makhluk hidup, meskipun wujud mereka sebelumnya telah
menimbulkan perilaku dan tugas tertentu yang dilaksanakan dan kadang
tidak. Ini menunjukkan bahwa organ tidak berkembang dari penyesuaian
diri makhluk hidup dengan kondisi hidupnya. Sebaliknya, kondisi hidup
muncul dari wujud semula organ tersebut dan dari fungsi-fungsi yang
telah kita lihat. Pertanyaan berikut bisa ditanyakan seperti pernah
ditanyakan Darwin : Apakah peristiwa membersihkan, menyiangi individu
yang sudah tak mampu hidup, atau adaptasi organ menuruti kondisi baru,
terjadi dalam evolusi ini? Menurut kami, peristiwa itu membuktikan bahwa
evolusi seperti ini, atau perubahan seperti ini, tidak terjadi. Malah,
yang terjadi adalah fenomena yang sama sekali beda.
Penjelasan ini menunjukkan dengan jelas kesimpulan yang dapat dicapai
oleh siapa saja melalui berpikir dengan hati nuraninya sejenak.
Satu-satunya Pencipta yang merupakan sumber sejati pengetahuan dan
kecerdasan telah menciptakan segala makhluk hidup dengan organ yang
tanpa cacat dan perilaku yang sempurna.
5. Semut Kayu
a. Ciri - Ciri
Semut
kayu terkenal dengan bukit yang mereka bangun dari daun cemara dan
cabang tipis di atas sarang bawah tanah mereka. Sarang ini biasanya
ditemukan di sekitar batang pohon. Bagian sarang yang di atas tanah,
terbuat dari ranting, tangkai daun, dan daun cemara, adalah atap sarang.
Atap ini bisa mencapai dua meter tingginya, mencegah meresap-nya air
hujan ke dalam dan mengatur suhu sarang dalam cuaca yang sangat panas
atau sangat dingin.
Semut kayu, seperti semut lain, juga rajin bekerja. Mereka selalu saja
menghias ulang sarang. Mereka memindahkan lapisan permukaan semula ke
lapisan bawah secara bertahap dan mereka menaikkan material dari lapisan
bawah untuk mengganti lapisan atas. Ada pengamatan menarik tentang
perubahan yang dibuat semut pada sarang. Cat biru disemprotkan ke puncak
bukit sarang dan empat hari kemudian diamati bahwa puncak bukit sudah
kembali coklat. Partikel biru ditemukan 8-10 cm di bawah permukaan.
Dalam sebulan partikel ini turun hingga kedalaman 40 cm. Selanjutnya,
partikel ini mencapai lagi permukaan.
Nah, apakah semut melakukan proses pemindahan sinambung ini hanya untuk
iseng? Tidak. Para peneliti menjelaskan mengapa semut kayu melakukan
tindakan terus-menerus ini sebagai berikut : Gerakan terus-menerus ini
mengeringkan zat lembap di dalam la-pisan permukaan dan mencegah
terbentuknya jamur. Kalau tidak, sarang semut ini akan dihuni jamur yang
berbahaya.
Dalam situasi seperti ini ada dua kemungkinan. Salah satunya adalah
zaman dulu sekali, dengan penelitian sendiri, semut menemukan fakta
bahwa jamur berkembang dalam lingkungan lembab (sesuatu yang ditemukan
manusia sebagai hasil penelitian ilmiah jangka panjang), dan
mengembangkan metode paling rasional untuk melenyapkan masalah ini!
Kemungkinan lain adalah pemikiran dan penerapan proses yang sempurna ini
hanya mungkin melalui ilham oleh kecerdasan yang lebih tinggi. Kasus
pertama jelas mustahil.
b. Metode Reproduksi Semut Kayu Yang Berbeda-Beda
Para pejantan dan ratu semut kayu bersayap. Namun, mereka tidak
melakukan penerbangan kawin seperti spesies semut kecil lain. Kawin
dilakukan di permukaan sarang atau tempat lain yang dekat. Setelah
kawin, ratu mencabut sayapnya dan melakukan salah satu dari tiga hal
berikut :
- Dia kembali ke sarang tempat dia semula hidup sebagai larva dan meninggalkan telurnya di sana.
- Kadang dia meninggalkan sarang dengan diangkut para pekerja, mencari tempat baru untuk membangun sarang.
- Jika dia pergi sendiri, dia masuk ke sarang dari semut lebih kecil
dari spesies yang berhubungan, misalnya semut hitam Formica fusca, dan
menggantikan ratu di sana. Ratu meninggalkan telurnya untuk dirawat para
pekerja F. fusca di sana. Untuk beberapa lama, di sarang terdapat
pekerja tamu dan pekerja tuan rumah. Namun, karena tuan rumah tak punya
ratu, lambat laun para pekerjanya mati dan ratu kayu memperoleh
sarang-jadi tanpa perlu melakukan apa-apa.
Dalam taktik semut kayu ratu yang dibahas pada bagian 3, diamati adanya
kesadaran yang jernih. Namun, jelas kesadaran itu tak mungkin dimiliki
semut itu sendiri. Semut ratu belum pernah melihat tempat lain selain
beberapa meter persegi dalam sarangnya. Dia masuk ke dalam koloni yang
belum pernah ia lihat atau ia ketahui sebelumnya, dan ia tahu siapa yang
harus ia singkirkan dalam koloni tersebut. Ia melakukan hal ini dengan
mengatasi segala rintangan.
6. Semut Legiun
Salah
satu hewan yang paling ditakuti di hutan adalah semut legiun. Komunitas
semut ini dinamai “pasukan” karena tindakan mereka me-miliki disiplin
militer sejati.
Semut legiun adalah hewan karnivora. Mereka melahap segala se-suatu yang
terlihat. Setiap semut panjangnya 6-12 milimeter, tetapi jumlah mereka
yang besar dan disiplin mereka mengimbangi kekurangan mereka dari segi
ukuran.
Sinar matahari langsung dapat membunuh semut legiun dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, mereka berjalan di malam hari atau dalam
bayang-bayang. Karena peka cahaya, mereka menggali terowongan panjang
saat bergerak maju. Sebagian besar semut berlari dalam terowongan ini
tanpa keluar. Hal ini tidak mengurangi kecepatan mereka, karena mereka
dapat menggali terowongan sangat cepat dengan rahang mereka yang kuat.
Karenanya, mereka lari secara cepat dan rahasia. Semut legiun bergerak
sebagai pasukan yang sangat besar, melintasi segala hambatan kecuali api
dan air, meskipun mereka buta sama sekali.
Semut legiun mengoyak mangsanya di tempat mereka bertemu, dan membawa
potongan mangsa kecil-kecil ke sarang sementara. Makanan yang dibutuhkan
koloni semut legiun cukup banyak. Kebutuhan sehari-hari koloni ukuran
sedang, yang terdiri atas 80.000 semut dewasa dan 30.000 larva,
kira-kira sekitar 2,27 liter makanan produk hewan.

Karena
tidak memiliki sarang tetap, semut legiun selalu berpindah-pindah.
Gerakan dan migrasi koloni bergantung pada daur produksi telur. Ratu
menghasilkan sekitar 25-35.000 telur selama dua hari setiap bulan.
Beberapa hari sebelum bertelur, koloni berhenti dan berkumpul di daerah
luas. Semut saling bergantungan dengan kaki yang berbentuk kait dan
membentuk sarang sementara. Ruang kosong di tengah merupakan ruangan,
yang siap untuk didiami ratu dan generasi baru. Wajarnya, kaki dan sendi
semut di puncak harus menerima beban berlebihan. Namun, karena tubuh
mereka dibentuk mampu dibebani berat beberapa ratus kali dari berat
mereka sendiri, mereka dapat menahan seluruh koloni tanpa masalah.
Guna berburu seefisien mungkin, semut menyesuaikan gerakan mereka dengan
kebutuhan anak-anak semut yang sedang berkembang, berganti-ganti antara
fase menetap dan ber-pindah-pindah. Pada masa istirahat sekitar 20
hari, ratu yang gemuk dan tak dapat bergerak menghasilkan 50.000 hingga
100.000 telur sementara anak-anak lain berada dalam tahap kepompong yang
diam. Sebagian besar hari dilewatkan para pekerja men-cari makanan
untuk mereka sendiri dan ratu, melakukan serangan singkat dari sarang
dengan pola seperti mawar. Pada setiap serangan mereka mengubah arah
sebesar rata-rata 123 derajat, se-hingga meng-hindari menyisir lahan
yang sama.
Semut bisa tidak keliru menghitung 123 derajat, sesuatu yang tak dapat
dihitung manusia tanpa alat. Ini seolah menunjukkan pengetahuan
matematika yang teliti. Namun, semut tidak mengenal matematika,
berhitung pun mereka tak bisa. Jadi ini menunjukkan bahwa tindakan
mereka dilakukan menurut ilham istimewa, dan tidak secara sadar.
Saat larva pertama menetas, para pekerja mengumpulkan makanan sementara
komunitas tetap di tempat. Potongan makanan langsung diberikan kepada
larva. Siapnya ratu bertelur lagi biasanya bersamaan dengan transisi
larva sebelumnya ke tahap kepompong. Pada tahap ini komunitas berhenti
lagi. Serempaknya waktu bertelur ratu dan pindahnya larva ke tahap pupa
menunjukkan perencanaan secara sadar karena ini mengurangi waktu
berhentinya pasukan.
Perkembangan larva mendorong semut yang lebih tua untuk memulai daur
migrasi baru. Inilah cara kerjanya : larva menghasilkan sekresi ketika
dijilat dan dibersihkan para pekerja. Penelitian menunjukkan bahwa
cairan ini efektif dalam keputusan untuk bermigrasi.
Tidak logis kalau kita mengklaim bahwa larva, yang menjadi semut pun
belum, sudah terpikir untuk menyekresikan cairan itu dan mengarahkan
seluruh koloni untuk memenuhi kebutuhan mereka. Satu-satunya hal yang
dapat ditangkap pengamat yang pandai adalah keberadaan Sang Pencipta
tertinggi, serta informasi dan kekuasaan-Nya di sekeliling kita.
7. Semut Beludru
Semut
beludru yang hidup di gurun pasir memiliki tubuh berbulu banyak. Bulu
alami mereka merupakan lapisan yang mengisolasi panas. Ia menyimpan
panas selama malam-malam dingin di gurun pasir, dan melindungi diri dari
panas di siang hari. Karena bersayap, semut beludru jantan bisa
menghindari panasnya pasir dengan terbang. Akan tetapi, semut beludru
betina harus berjalan di pasir yang panas karena tak punya sayap. Mereka
memerlukan bulu ini agar terlindung dari panas yang berasal dari tanah
maupun dari matahari.
Lalu, bagaimana menjelaskan adanya serangga yang memiliki “bulu” untuk
melindungi diri dari kondisi cuaca yang berbahaya? Mustahil kita
mengklaim bahwa hewan memperolehnya dengan beradaptasi dengan alam
sebagai proses evolusi, karena ini menimbulkan banyak pertanyaan yang
tetap tak terjawab : Apakah semut beludru betina mati karena suhu tinggi
sebelum memiliki bulu ini? Jika memang demikian, bagaimana mereka bisa
menunggu selama beberapa generasi agar memperoleh bulu “secara
kebetulan”? Melalui kebetulan macam apa mereka mendapatkan tubuh ini?
Pertanyaan ini tentu saja tak berjawab, karena serangga ini mustahil
memperoleh “bulu” yang melindungi mereka dari panas melalui mekanisme
yang terus diajukan evolusionis. Semut tak dapat hidup tanpa bulu ini
dan mereka tak punya waktu untuk menunggu mutasi yang jarang sekali
terjadi – yang semuanya berbahaya. Jelas bahwa hewan ini telah dirancang
sejak awal untuk bertahan dalam iklim yang mereka tinggali.
Semut beludru betina mencari sarang serangga atau sarang lebah jenis apa
pun, yang dapat mereka gunakan setelah meninggalkan tempat mereka
kawin. Jika sudah menemukannya, mereka memasuki sarang. Mereka
diperlengkapi dengan cara untuk menangkis upaya pengusiran. Pada
akhirnya mereka terus tinggal dalam sarang, karena semut beludru
memiliki kaki kuat dan perisai yang memungkinkan mereka masuk ke sarang
lebah sekalipun. Cangkang luar mereka sangat tebal dan keras. Para ahli
zoologi mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk menusuk dada
semut beludru dengan jarum baja.
Setelah masuk, semut ratu beludru yang memiliki segala macam kelengkapan
untuk tinggal dalam sarang lebah, mulai memakan simpanan madu. Selain
itu, ia meninggalkan telurnya dalam sel pupa atau kepompong lebah. Larva
semut yang menetas, memakan pupa inangnya, dan kelak menjadi pupa juga.
Lebah meninggalkan sarang pada akhir musim panas. Semut beludru
melewatkan musim dingin dalam sarang ini sebagai pupa. Menurut satu
catatan, ada sarang lebah yang berisi 76 semut beludru dan hanya dua
ekor lebah.40 Contoh ini menunjukkan betapa semut beludru betina efektif
dan berhasil dalam menangani lebah betina. Dengan menggunakan taktik
halus, semut ratu beludru menduduki sarang dari dalam dan merebut
kendali sarang itu.
Yang patut dicatat adalah bahwa semut beludru sangat mengenal lebah, dan
lebih lagi, tahu betul cara mengelabuhinya. Jadi, mungkinkah ada sosok
selain sang Pencipta lebah Yang mengilhami si ratu dengan ciri-ciri
fisik, gaya hidup, dan struktur sarang seperti lebah? Satu-satunya
penjelasan logis adalah menerima keberadaan Pencipta tunggal yang telah
menciptakan semut, lebah, dan, sesungguhnya, segala makhluk hidup.
8. Semut Api
a. Ciri-Ciri
Semut
api adalah serangga merah berukuran kecil. Namun, mereka mampu
melakukan hal-hal besar. Ratu semut jenis ini, yang memiliki 20 varietas
di Amerika saja, dapat memproduksi hingga 5000 telur sehari. Sementara
banyak koloni spesies semut memiliki beberapa ratus pekerja, koloni
spesies ini memiliki sekitar setengah juta pekerja. Satu ratu semut api
yang sudah kawin dapat memproduksi sebuah koloni dengan 240.000 pekerja.
Pekerja semut api menyerang mangsa dengan sangat agresif menggunakan
jarum beracun. Telah diamati bahwa semut api muda dapat mencederai atau
bahkan membunuh reptil atau bayi menjangan. Selain itu, semut agresif
ini bisa menyebabkan padam listrik dengan merusak kabel. Pernah mereka
menyerang Amerika Selatan dan mengakibatkan kerusakan yang mengerikan.
Jurnal dan majalah tahun itu menginformasikan bahwa semut-semut ini
mengunyah putus kabel listrik sehingga listrik padam, menggagalkan panen
senilai miliaran dolar, meruntuhkan jalan tol dan menyengat manusia,
mengakibatkan shock alergi yang me-lumpuhkan. Mereka melakukan semua ini
dengan rahang mereka yang kuat. Mereka bahkan menggali terowongan di
bawah jalan menyebabkan jalan dan jalan tol runtuh, juga kerusakan lain
di lingkungan.
b. Perlindungan dari Kuman
Para ahli Amerika telah mencoba berbagai cara untuk mencegah kerusakan
oleh semut api. Mereka mencoba menyebarkan penyakit menular dalam koloni
dengan menyuntikkan kuman ke dalam lalat yang dimakan semut. Namun,
secara menakjubkan, diamati bahwa lalat berkuman itu sama sekali tidak
mencederai semut. Dalam analisis ditemukan bahwa semut memiliki salah
satu sistem pertahanan yang paling menarik di dunia makhluk hidup :
struktur di dalam leher yang melindungi mereka dari kuman. . .. Berkat
struktur ini, bakteri di dalam makanan apa pun yang dimakan semut
tertahan di leher dan tidak dapat memasuki tubuh.
Namun, bukan itu saja sistem perlindungan semut api sebagai produk
kecerdasan tertinggi. Mereka juga menyemprotkan cairan antimikroba yang
diproduksi dalam kantung racun mereka di sekitar sarang dan pada larva.
Dengan demikian, sarang dan larva menjadi sama sekali bebas kuman.
Walau dilengkapi sistem pertahanan luar biasa, semut-semut ini jelas
tidak menyadarinya. Dapatkah manusia yang berhati nurani mengklaim bahwa
sistem semacam ini berevolusi secara kebetulan? Juga tak dapat diklaim
bahwa semut menemukan sendiri sistem ini. Lalu siapa yang menempatkan
saringan dalam leher semut? Siapa yang mengilhami mereka memproduksi
cairan antimikroba ?
c. Semut Pekerja Keras
Semut api spesialis pertahanan juga rajin dan punya keterampilan tinggi.
Mereka dapat membangun bukit setinggi 30 cm dan selebar 60 cm, atau
menggali terowongan labirin hingga sedalam 1,5 m di bawah tanah. Di
wilayah-wilayah tertentu, semut api membangun bukit-bukit kecil hingga
lebih dari 350 buah. Kemampuan makhluk sekecil itu membangun sarang
sebesar itu tentu bergantung pada kerajinannya. Jadi, apakah kekuatan
yang menjadikan semut sebagai salah satu makhluk hidup terajin di dunia?
Sangat menakjubkan bahwa mereka bekerja sepanjang hari tanpa berhenti
atau beristirahat, dan membangun sarang yang tersebar di wilayah yang
luas. Tak satu pun berkata, “Aku bekerja terlalu keras hari ini, biarkan
aku beristirahat sebentar,” atau “Aku tak mau bekerja hari ini. Biarkan
aku duduk di pojok saja.” Inilah topik yang harus direnungkan dengan
seksama.
Jangan dilupakan bahwa manusia adakalanya menyerah karena lelah, bahkan
saat mereka tahu mereka harus menyelesaikan tugas, dan adakalanya mereka
tidak memaksakan diri karena mereka lelah atau merasa malas. Namun,
semut menunjukkan kemauan dan upaya besar untuk merampungkan tugas yang
mereka mulai hingga berhasil.
d. Penguasa Taktik yang Dapat Menembus Sistem Pertahanan
Musuh semut api yang paling menyeramkan adalah Solenopsis davgeri, suatu
spesies semut parasit. Jadi, makhluk hidup yang dapat menembus sistem
pertahanan bertingkat mereka, yang bahkan sulit dipahami manusia, adalah
spesies semut lain. Tak diketahui bagaimana semut parasit ini dapat
menyusup ke dalam sarang semut api. Namun, begitu mereka masuk, semut
parasit langsung menyerang ratu dan bergantung pada antena, kaki, atau
lehernya. Karena semut pekerja biasanya harus menghancurkan setiap
penyerang, fakta bahwa mereka tidak melakukan apa-apa pada makhluk yang
satu ini sulit dijelaskan. Namun ada jawaban sederhana. Saat menempel
pada leher ratu, si parasit meniru feromon ratu. Selanjutnya, para
pekerja bersusah payah memberi makan parasit yang telah menundukkan ratu
mereka .. Ratu mereka mati, sedang mereka mengira telah memberinya
makan.
9. Semut Gurun
a. Ciri-Ciri
Sebagian
besar makhluk hidup mustahil hidup di dalam pasir membara bersuhu 65o
C, termasuk manusia. Namun, ada semut yang dapat terus hidup pada suhu
ini. Nah, bagaimana Namib ocymyrmex, yang merupakan semut gurun hitam
berukuran sedang dan berkaki panjang, hidup dalam panas tinggi ini?
Bagi semut Namib, hari biasa di gurun tidak dimulai pada satu waktu
tertentu .. Yang memulai hari-hari adalah suhu permukaan pasir standar
setelah mencapai 30o C. Tepat pada suhu ini semut mulai keluar dari
sarang bawah tanah untuk mencari makanan. Karena tubuh mereka sangat
dingin, mereka tak dapat bergerak lurus dan berjalan terseok-seok.
Namun, ketika suhu meningkat, semakin banyak semut keluar dan mereka
mulai bergerak lebih lurus dan cepat. Lalu lintas tertinggi keluar-masuk
sarang adalah pada suhu 52,2o C. Ketika suhu melebihi ini, gerakan
terus berlanjut, tetapi ketika suhu mencapai 67,8o C, lalu lintas
berhenti. Suhu ini dicapai sekitar sejam sebelum tengah hari. Ketika
suhu mulai turun pada sore hari, pencarian makanan dimulai lagi dan
berlanjut sehingga suhu permukaan jatuh hingga 30o C.
Semut mungkin mencari makanan sekitar enam hari jauhnya dari sarang
tanpa dimangsa hewan apa pun. Pada masa ini mereka membawa pulang
makanan yang beratnya 15-20 kali lipat berat mereka sendiri.
Semut, yang tak bisa pulang ke sarang ketika suhu di padang pasir sangat
tinggi, menggunakan metode yang cukup menarik untuk berlindung dari
panas. Suhu udara menurun jika jarak semakin jauh ke atas pasir.
Misalnya jika suhu pasir 67,8o C, suhu udara sedikit di atasnya adalah
55o C. Jadi, jika suhu permukaan pasir di atas 52,2o C, semut mendaki
benda seperti tumbuhan dan berdiam di situ sementara untuk mendingin.
Suhu tubuh semut yang kecil bisa cepat turun hingga mencapai suhu
sekitar. Dalam batang pohon, suhu bervariasi antara 30 hingga 38,3o C.
Jeda pendinginan ini memungkinkan semut mencari makanan dalam panas
membara, meskipun terputus-putus.
Pada suhu tinggi, jika tidak dapat menemukan tempat dingin dalam
beberapa detik, semut akan mati kepanasan. Malah, jika suhu pasir di
atas 52,2o C, mereka mengambil resiko setiap kali meninggalkan sarang.
Lalu, bagaimana semut gurun melepaskan dari kematian tak terhindarkan
ini? Karena mereka tidak mengukur suhu dengan termometer, kita dapat
berkata bahwa mereka tercipta dengan mengetahui apa harus dilakukan pada
suhu apa dan mengetahui hal-hal ini sejak pertama kali mereka
meninggalkan sarang.
Ya, semut gurun telah diciptakan dan dilengkapi dengan kemampuan khusus untuk hidup di gurun.
b. Kondisi Koloni
Akibat simbiosis antara semut pemotong daun dan jamur, semut memperoleh
protein yang mereka butuhkan untuk gizi dari tunas jamur yang mereka
tanam di daun. Di atas terlihat kebun jamur yang dirawat semut.
- Di dalam sarang, pekerja yang lebih kecil memotong daun kecil-kecil.
- Kasta berikut mengunyah potongan ini menjadi pulp dan memupuknya dengan simpanan cairan feses yang kaya enzim.
- Semut-semut lain menyediakan pasta daun subur di atas lapisan daun kering di ruang baru.
- Kasta lain mengangkut potongan jamur dari ruang lama dan menanamnya
dalam pasta daun. Potongan jamur dioleskan pada pasta daun seperti
lapisan gula kue.
- Kasta kerdil berkerumun membersihkan dan menyiangi kebun, lalu memanen jamur untuk dimakan semut lain.
Yang tajam dan menyuntikkan asam dalam luka tersebut. Dengan keunikan ini, hewan ini.
Pertama, beberapa ekor semut memilih benda di dekat tanah, misalnya
batang, lalu bergantung dari benda itu dengan saling berkaitan cakar.
Semut lain tiba, berlari menuruni untaian, dan mengaitkan cakar sampai
untaian menjadi tali yang dapat bergabung menjadi kumpulan selebar satu
meter yang disebut bivak; rumah mereka merupakan seluruh koloni dari
200.000 hingga 750.000 individu. Di tengah-tengah sang ratu beristirahat
bersama anak-anaknya. Pada pagi hari semut mulai melepaskan kaitan
untuk keluar dan mencari mangsa